Breaking

LightBlog

Monday, June 5, 2017

Ederson Moraes, Kiper Muda Bertalenta Harapan Pep Guardiola

Memasuki musim keduanya sebagai manajer Manchester City, Pep Guardiola mulai melakukan perombakan besar pada skuatnya. The Citizens telah melepas para pemain senior yang kontraknya sudah habis seperti Jesús Navas, Gaël Clichy, Bacary Sagna, Willy Caballero, dan Pablo Zabaleta.

CIity kemudian bergerak cepat untuk membangun skuat menghadapi musim 2017/18. Gelandang lincah asal Portugal Bernardo Silva telah resmi mereka datangkan dengan nilai transfer mencapai £43 juta. Pemain berusia 22 tahun itu nampaknya akan menjadi kreator di lini tengah andalan Guardiola di musim mendatang.

City kini juga sedang berupaya merekrut kiper baru. Dalam membangun kekuatan sebuah tim, posisi tersebut tentu sangat penting. Kiper akan menjadi pondasi untuk membangun skuat The Citizens yang menargetkan gelar juara musim depan.

Pilihan jatuh pada kiper muda asal Brasil Ederson Moraes Pada Kamis (1/6), Benfica telah mengumumkan kiper berusia 23 tahun itu akan hengkang ke City. Harga yang telah disepakati bahkan memecahkan rekor transfer untuk seorang kiper. Klub Portugal itu mengumumkan sang kiper ditebus dengan nilai transfer mencapai £34,9 juta. Nilai tersebut memecahkan rekor transfer kiper termahal dunia Gianluigi Buffon senilai £32,6 juta saat pindah dari Parma ke Juventus pada 2001.

Namun jika dihitung dalam mata uang euro serta menghitung perkembangan valuasi, inflasi, dan konversi mata uang saat ini Buffon sebenarnya masih unggul. Karena transfernya ke Juventus bernilai €53 juta sementara Ederson €40 juta.

Hingga artikel ini dipublikasikan, City belum mengumumkan kedatangan Ederson secara resmi karena kabarnya masih ada proses yang cukup rumit. Terdapat keterlibatan pihak ketiga dalam proses transfer tersebut. Mantan klubnya Rio Ave masih memegang 50 persen kepemilikan sang kiper.

Ederson merupakan salah satu kiper muda yang paling bertalenta di dunia sepakbola saat ini. Hal itu bisa dilihat dari performa dan pencapaiannya di Benfica dalam dua musim terakhir. Pada musim 2016/17 ia berhasil membantu timnya meraih gelar ganda (liga dan piala Portugal).

Kiper kelahiran Osasco, Brasil, itu berhasil mencatatkan 22 clean sheet sejak melakoni debut di tim utama Benfica pada Maret 2016 dan sukses membantu klubnya meraih kesuksesan di kompetisi domestik. Musim ini Ederson mencatatkan penyelamatan sukses mencapai 81,2 persen, terbaik di liga Portugal.

Kiper bernama lengkap Ederson Santana de Moraes itu mengawali karirnya di tim junior klub papan atas Brasil Sao Paulo, tapi pada 2009, saat masih berusia 16 tahun, ia bergabung dengan akademi Benfica. Setelah tiga tahun di sana ia sempat dilepas oleh pihak klub dan kemudian bergabung dengan tim divisi dua Portugal Ribeirao.

Setahun berselang ia bergabung dengan klub yang berlaga di kompetisi teratas Portugal, Rio Ave. Ederson kemudian tampil impresif dan masuk dalam skuat timnas Brasil U-23 yang sukses menjuarai turnamen Toulon 2014. Performanya membuat Benfica tertarik membawanya pulang. 

Juni 2015 Ederson akhirnya kembali ke Benfica. Ia menandatangani kontrak berdurasi lima tahun dan memiliki kalusul pelepasan senilai €45 juta. Pada awalnya ia hanya menjadi pelapis dari kiper senior yang juga merupakan kompatriotnya Julio Cesar.

Pada Maret 2016, Ederson mendapat kesempatan tampil sebagai kiper utama di laga besar menghadapi sang rival Sporting CP. Ia tampil menggantikan Julio Cesar yang cedera. Di laga tersebut ia mampu membantu timnya menang 1-0 sehingga sukses menempati puncak klasemen.
Sejak saat itu Ederson mulai dipercaya jadi andalan Benfica dan berhasil membawa klubnya menjuarai Primeira Liga Portugal serta Taca da Liga musim 2015/16.

Pada musim 2016/17 performanya semakin meningkat. Beberapa penampilan hebatnya di ajang Liga Champions membuat namanya semakin populer. Ederson sempat dipanggil memperkuat timnas Brasil namun belum juga melakoni debutnya di tim senior. Dia menjadi bagian dari skuat awal Brasil untuk berlaga di Copa America Centenario 2016 tapi pada akhirnya harus dicoret karena mengalami cedera.

Gagal membela negaranya tidak membuat Ederson berkecil hati, ia justru bisa tampil semakin baik untuk membuktikan dirinya layak mendapat tempat di timnas Brasil.
Ederson mulai dikenal sebagai kiper yang juga memiliki kemampuan mengolah bola yang mumpuni. Ia juga bisa melepaskan tendangan yang sangat jauh, dan bahkan pernah mencetak gol dari kotak penaltinya sendiri saat bermain di level junior.

Dalam cuplikan video yang berisi kumpulan aksi hebatnya sepanjang 2016/17 nampak Ederson punya kemampuan spesial dalam menjalankan peran sebagai sweeper keeper. Ia memiliki kepercayaan diri untuk maju memotong laju bola, dan memperkecil ruang bagi lawan-lawannya untuk menciptakan peluang.

Gaya bermainnya serupa dengan Manuel Neuer di Bayern Munich. Mungkin hal itu yang turut membuat Guardiola tertarik padanya. Dalam setiap tim asuhannya sang manajer selalu menginginkan kiper yang bisa menguasai bola dengan kakinya sehingga bisa mulai membangun serangan lewat distribusi bola yang baik dari belakang selain tentunya juga handal menghalau tembakan lawan.

Keputusan Guardiola meminjamkan Joe Hart ke klub Serie A Italia Torino, dan lebih memilih untuk merekrut Claudio Bravo dari Barcelona pada awal musim 2016/17 dilakukan karena sang manajer butuh kiper yang bisa membangun serangan dari belakang.

Tapi kiper asal Cile itu gagal tampil maksimal dan justru kerap melakukan blunder musim ini. Meski demikian ia tercatat mampu menciptakan 72 persen operan sukses, terbaik di antara kiper yang bermain di Liga Primer Inggris. Sementara  akurasi operan sang calon pengganti Bravo, Ederson, di liga Portugal  mencapai 70 persen, hanya selisih dua persen.

City kesulitan meraih hasil maksimal karena kiper mereka tidak cukup konsisten. Meski telah mendatangkan Bravo, Guardiola sempat lebih memilih mengandalkan Caballero, yang kini telah hengkang dari klub usai kontraknya habis. Kedatangan Ederson tentu diharapkan bisa menjadi solusi.

Posisi kiper adalah salah satu masalah terbesar bagi Guardiola dalam musim debutnya di Inggris yang berakhir tanpa perolehan trofi. City finis di peringkat tiga klasemen Liga Primer, tertinggal 15 poin dari sang juara Chelsea. Mereka tersingkir di babak 16 besar Liga Champions setelah takluk dari AS Monaco, dan dikalahkan oleh Arsenal di semi-final Piala FA.

Ederson menjadi harapan untuk bisa memberikan solusi di posisi kiper. Ia memiliki kemampuan menghalau bola yang disertai refleks yang bagus, kekuatan fisiknya membuat ia mampu menangkap bola meski harus berduel dengan lawan. Dia juga mampu mengantisipasi umpan silang dengan baik. Kekuatan-kekuatan kiper berpostur 188 cm itu diharapkan bisa memberi rasa aman di gawang City musim depan.

Di sisi lain Ederson masih muda dan belum terlalu berpengalaman, terlebih di sepakbola Inggris. Faktor tersebut membuatnya mungkin masih butuh waktu untuk beradaptasi di musim pertamanya.
Tapi yang jelas keputusan merekrut Ederson bisa dilihat sebagai bentuk upaya Guardiola membangun tim muda bertalenta dan menerapkan filosofi permainan yang sesuai dengan keinginannya semaksimal mungkin demi bersaing meraih berbagai trofi di musim 2017/18.
LightBlog